A. Arti
Penting Stress
Kita
semua pernah mengalami stress.Tetapi sebenarnya stress tidak selalu
jelek.Stress dalam tingkat yang sedang itu perlu untuk menghasilkan kewaspadaan
dan minat pada tugas yang ada , dan membantu orang melakukan penyesuaian.Sistem
syaraf juga memerlukan rangsangan agar bisa tetap terlatih dan selanjutnya bisa
berfungsi dengan baik.Secara umum yang dimaksud dengan stress adalah reaksi
tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan , perubahan , ketegangan emosi
, dan lain-lain.Menurut Lazarus 1999(dalam Rod Plotnik 2005:481) “Stres adalah
rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau
menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa
menanganinya secara memadai”.
Stress berbeda dengan stresor .
Stresor adalah sesuatu yang menyebabkan stres.Stres itu sendiri adalah akibat
dari interaksi timbal balik antara rangsangan lingkungan dan respons individu.
Stress dalam arti secara umum adalah
perasaan tertekan, cemas dan tegang. Dalam bahasa sehari – hari stres di kenal
sebagai stimulus atau respon yang menuntut individu untuk melakukan
penyesuaian. Menurut Lazarus & Folkman (1986) stres adalah keadaan internal
yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh atau kondisi lingkungan
dan sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi
kemampuan individu untuk mengatasinya. Stres juga adalah suatu keadaan
tertekan, baik secara fisik maupun psikologis ( Chapplin, 1999). Stres juga
diterangkan sebagai suatu istilah yang digunakan dalam ilmu perilaku dan ilmu
alam untuk mengindikasikan situasi atau kondisi fisik, biologis dan psikologis
organisme yang memberikan tekanan kepada organisme itu sehingga ia berada
diatas ambang batas kekuatan adaptifnya. (McGrath, dan Wedford dalam Arend dkk,
1997).
Menurut
Lazarus & Folkman (1986) stres memiliki memiliki tiga bentuk yaitu:
1. Stimulus, yaitu stres merupakan kondisi atau
kejadian tertentu yang menimbulkan stres atau disebut juga dengan stressor.
2. Respon, yaitu stres yang merupakan suatu respon
atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang
menimbulkan stres. Respon yang muncul dapat secara psikologis, seperti: jantung
berdebar, gemetar, pusing, serta respon psikologis seperti: takut, cemas, sulit
berkonsentrasi, dan mudah tersinggung.
3. Proses, yaitu stres digambarkan sebagai suatu
proses dimana individu secara aktif dapat mempengaruhi dampak stres melalui
strategi tingkah laku, kognisi maupun afeksi.
Rice (2002) mengatakan bahwa stres
adalah suatu kejadian atau stimulus lingkungan yang menyebabkan individu merasa
tegang. Atkinson (2000) mengemukakan bahwa stres mengacu pada peristiwa yang
dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang. Situasi
ini disebut sebagai penyebab stres dan reaksi individu terhadap situasi stres
ini sebagai respon stres.
B.
Coping Stress
Emosi
dan rangsangan fisiologis yang ditimbulkan oleh situasi stress, sangat tidak
nyaman. Ketidak nyamanan tersebut memotivasi individu untuk melakukan sesuatu
guna menghilangkannya. Proses yang ditempuh seseorang untuk menghadapi tuntutan
yang menimbulkan stress dinamakan Coping
(kemampuan mengatasi masalah). Coping memeliki dua bentuk utama.
1. Strategi Terfokus Masalah
(Problem Focus coping)
Upaya seseorang untuk memfokuskan perhatian pada masalah
atau situasi spesifik yang telah terjadi, sambil mencoba menemukan cara untuk
mengubahnya atau menghindarinya.
2. Strategi Terfokus Emosi
(Emotional Focus Coping)
Upaya untuk mencegah emosi negatif menguasai diri seseorang
atau mencegah terjadinya masalah yang tidak dapat dikendalikan.
- Strategi Perilaku
Latihan fisik untuk beralih dari masalah. Ada yang
menggunakan minum-minuman alcohol atau ada yang mencari dukungan dari teman.
- Strategi Kognitif
Menyingkirkan sementara pikrann tentang masalah. Contoh :
Memutuskan untuk tidak mengkhawatirkan masalah tersebut.
Penelitian
lain mengklasifikasikan strategi terfokus emosi secara berbeda, menjadi
strategi perenungan, strategi pengalihan dan strategi penghindaran negative (Nolen Hoeksema,1991 dalam Atkinson
1993:380).
1. Strategi Perenungan
Dilakukan dengan cara mengisolasi diri untuk merenungkan
betapa buruknya persaan kita , mengkhwatirkan peristiwa stress, atau keadaan
emosional kita, atau membicarakan berulang kali betapa buruknya segala sesuatu
tanpa mengambil tindakan untuk mengubahnya.
2. Strategi Pengalihan
Ditempuh dengan cara ikut terlibat dalam aktivitas yang
menyenangkan, meningkatkan persaan kendali kita. Contoh : melakukan kegiatan
berolah raga, menonton film dll.
3. Strategi Penghindaran
Negatif
Aktivitas yang dapat mengalihkan kita dari mood, tapi
berbeda dari strategi pengalihan. Bedanya adalah bahwa stretgi penghindaran
negative merupakan aktivitas yang beresiko yang mungkin malah memperberat mood.
Contoh : Minum sampai mabuk, naik motor ugal-ugalan.
C.
Teori Kepribadian Sehat menurut Allport dan
Carl Rogers
1.Allport
Menurut Allport, individu-individu yang sehat dikatakan mempunyai fungsi yang
baik pada tingkat rasional dan sadar. Menyadari sepenuhnya kekuatan-kekuatan
yang membimbing mereka dan dapat mengontrol kekuatan-kekuatan itu juga.
Kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik
masa kanak-kanak. Dimana orang-orang yang neurotis terikat dan terjalin erat
pada pengalaman-pengalamanmasa kanak-kanak, berbeda dengan orang-orang yang
sehat yang bebas dari paksaan-paksaan masa lampau. Pandangan orang sehat adalah
ke depan, kepada peristiwa-peristiwa kontemporer dan peristiwa-peristiwa yang
akan datang, dan tidak mundur kembali kepada peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak.
Segi pandangan yang sehat ini memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih
dan bertindak. Orang yang matang dan sehat juga akan terus menerus membutuhkan
motif-motif kekuatan dan daya hidup yang cukup untuk menghabiskan
energi-energinya. Pada tahap perkembangan manapun, setiap individu harus
menemukan minat-minat dan impian-impian baru. Energi tersebut harus diarahkan
pada setiap tahap agar mencapai suatu kepribadian yang sehat. Contohnya seorang
remaja membutuhkan penyaluran-penyaluran atas energinya agar terhindar dari
kepribadian yang tidak sehat. Energi itu harus menemukan jalan keluar, dan
apabila energi tidak diungkapkan secara konstruktif maka mungkin energi akan
dilepaskan secara destruktif. Dimana beberapa anak yang
kekurangan tujuan-tujuan yang berarti dan konstruktif untuk menghabiskan energi
mereka, menyebabkan masalah kenakalan. Dorongan yang bersifat konstruktif
adalah sangat penting bagi orang-orang yang sehat secara psikologis.
Orang-orang yang demikian mengejar secara aktif tujuan-tujuan, harapan-harapan,
dan impian-impian, dan kehidupan mereka dibimbing oleh suatu perasaan akan
maksud, dedikasi, dan komitmen. Pengejaran terhadap suatu tujuan tidak pernah
berakhir; apabila suatu tujuan harus dibuang, maka suatu motif yang baru harus cepat
dibentuk. Orang yang sehat melihat ke masa depan dan hidup dalam masa depan.
2. Carl Rogers
Carl Rogers adalah seorang
psikolog yang terkenal dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien
(client centered). Rogers kemudian menyusun teorinya dengan pengalamannya
sebagai terapis selama bertahun-tahun. Teori Rogers mirip dengan pendekatan
Freud, namun pada hakikatnya Rogers berbeda dengan Freud karena Rogers
menganggap bahwa manusia pada dasarnya baik atau sehat. Dengan kata lain,
Rogers memandang kesehatan mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah,
sementara penyakit jiwa, kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain dipandang
sebagai penyimpangan dari kecenderungan alamiah. Ide pokok dari teori – teori
Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti
diri, menentukan hidup, dan menangani masalah–masalah psikisnya asalkan
konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk
aktualisasi diri. Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi
diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa
kanak-kanak seperti yang diajukan oleh aliran Freudian, misalnya toilet
trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya. Rogers lebih
melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan
mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan
mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi
sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
Sumber:
-Umar, Husein. Riset dan Stress dalam Organisasi.Bandung. Karya Pustaka.2007.